Sunday, May 24, 2015

Ketika Suami Tidak Lagi Miliki Rasa Cemburu

Ketika Suami tak lagi Miliki Rasa Cemburu

Suami bertipe semacam ini adalah suami yang tercela sebagaimana disebutkan dalam hadis iaitu hadis Ibnu 'Umar radhiyallahu' anhuma dengan sanad marfu '-sampai pada Nabi shallallahu' alaihi wa sallam-, di mana beliau bersabda,

ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ

"Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk syurga iaitu: penagih arak, orang yang derhaka kepada orang tua, dan orang yang tidak mempunyai sifat cemburu yang meluluskan perkara keji pada keluarganya." (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain).

Adapun maksud ad dayyuts sebagaimana disebutkan dalam Al Mu'jam Al Wasith adalah para lelaki yang menjadi pemimpin untuk keluarganya dan ia tidak punya rasa cemburu dan tidak punya rasa malu.

Yang dimaksudkan tidak punya rasa cemburu dari suami adalah membiarkan keluarganya bermaksiat tanpa mau mengingatkan.

Imam Ibnul Qayyim ketika menjelaskan dampak buruk perbuatan maksiat, di antaranya perbuatan ad-diyatsah / ad-dayytus (membiarkan perbuatan buruk dalam keluarga) yang timbul karena lemah atau hilangnya sifat ghirah dalam hati pelakunya, beliau berkata,

الدَّيُّوثُ أَخْبَثَ خَلْقِ اللَّهِ ، وَالْجَنَّةُ حَرَامٌ عَلَيْهِ ، وَكَذَلِكَ مُحَلِّلُ الظُّلْمِ وَالْبَغْيِ لِغَيْرِهِ وَمُزَيِّنُهُ لَهُ ، فَانْظُرْ مَا الَّذِي حَمَلَتْ عَلَيْهِ قِلَّةُ الْغَيْرَةِ

وَهَذَا يَدُلُّكَ عَلَى أَنَّ أَصْلَ الدِّينِ الْغَيْرَةُ ، وَمَنْ لَا غَيْرَةَ لَهُ لَا دِينَ لَهُ ، فَالْغَيْرَةُ تَحْمِي الْقَلْبَ فَتَحْمِي لَهُ الْجَوَارِحَ، فَتَدْفَعُ السُّوءَ وَالْفَوَاحِشَ ، وَعَدَمُ الْغَيْرَةِ تُمِيتُ الْقَلْبَ ، فَتَمُوتُ لَهُ الْجَوَارِحُ ؛ فَلَا يَبْقَى عِنْدَهَا دَفْعٌ الْبَتَّةَ

"... Oleh kerana itulah, ad-dayyuts adalah makhluk Allah yang paling buruk dan diharamkan baginya masuk syurga, demikian juga orang yang membolehkan dan menganggap baik perbuatan zalim dan melampaui batas bagi orang lain. Maka perhatikanlah akibat yang ditimbulkan karena lemahnya sifat ghirah (dalam diri seseorang).

Ini semua menunjukkan bahawa asal (pokok) agama (seseorang) adalah sifat ghiroh. Barangsiapa yang tidak mempunyai sifat ghirah maka berarti dia tidak mempunyai agama (iman). Kerana sifat inilah yang akan menghidupkan hati (manusia) yang kemudian menghidupkan (kebaikan pada) anggota badannya, sehingga anggota badannya akan menolak (semua) perbuatan buruk dan keji (dari diri orang tersebut). Sebaliknya, hilangnya sifat ghirah akan mematikan hati (manusia) yang kemudian akan mematikan (kebaikan pada) anggota badannya, sehingga sama sekali tidak ada penolak keburukan pada dirinya ... "(al-jawabul Kafi Liman Sa'ala 'Anid Dawa Asy-Syafi).

Dengan demikian, ancaman keras dalam hadis ini menunjukkan bahawa perbuatan ini termasuk dosa besar yang sangat dimurkai oleh Allah Ta'ala, kerana termasuk ciri-ciri dosa besar adalah jika perbuatan tersebut diancam akan mendapatkan balasan di akhirat nanti, baik berupa siksaan, kemurkaan Allah ataupun ancaman keras lainnya.

*sumber panjimas.com

Friday, May 22, 2015

4 Perbandingan Al-Quran Kepada Pembaca Al-Quran

Mukmin yang Membaca Al Qur’an Ibarat Buah Utrujah yang Wangi & Manis

Sebagai seorang Muslim, sudah sepantasnya untuk selalu membaca Al-Quran setiap hari. Apalagi bagi seorang Mukmin, maka membaca Al-Quran sudah semestinya dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan tidak hanya sambil lalu saja.

Tingkatan selanjutnya, jika seorang Muslim sudah boleh membaca Al-Quran dengan betul dan lancar, maka hendaklah ia memahami isi kandungannya dan kemudian diamalkan semampunya. Sebab bagi seorang Mukmin, Al-Quran merupakan sebuah penerang bagi manusia dalam menjalani kehidupan.

Selain itu, dalam sebuah hadis, Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengumpamakan seorang Mukmin yang membaca Al Qur'an itu ibarat buah utrujah yang mempunyai bau yang sangat wangi dan rasa yang manis. Barangkali kalau diibaratkan seperti buah nangka, yang mempunyai wangi yang sedap juga mempunyai rasa yang manis. Al Qur'an bermanfaat buat dirinya juga buat orang lain. Beliau shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَاحُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَارِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ

Artinya: "Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al Qur'an seperti buah utrujah yang mempunyai wangi yang sedap dan rasa yang manis. Sedangkan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al Qur'an ibarat buah tamar (kurma) yang tidak mempunyai bau tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan seorang munafiq yang membaca Al Qur'an ibarat buah roihanah yang mempunyai wangi yang sedap tetapi rasanya pahit. Dan perumpamaan seorang munafiq yang tidak membaca Al Qur'an ibarat buah handzholah yang tidak mempunyai bau dan rasanya pahit ". (HR. Muslim, 1896)

Semoga kita semua digolongkan oleh Allah SWT sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an, senantiasa mentadaburi Al Qur'an dan mengamalkan isi Al Qur'an semampu kita sebagai bekal menghadapi kehidupan di akhirat nanti.

*sumber dari peribadirasulullah.wordpress.com

Thursday, May 21, 2015

Mengapa Allah Mengganti Kulit Penghuni Neraka?

Di dalam Surat An Nisa ayat 56, Allah berfrman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus,Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab, Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Siapapun yang mentadaburi ayat di atas pastilah bertanya-tanya, mengapa Allah Yang Maha Kuasa mengganti kulit yang hangus karena luka bakar akibat panasnya api neraka diganti dengan kulit  yang baru?
Dalam ilmu dermatologi diketahui bahwa pusat rasa sakit adalah di ujung-ujung persyarafan kulit kita, sehingga kalau ada seseorang yang terluka bakar yang sangat luas, maka dia akan kehilangan rasa sakitnya juga akan terjadi syock karena kehilangan cairannya.
Tapi perhatikan ayat yang diturunkan 1400 tahun yang lalu menunjukkan andaikata kulit yang terbakar oleh api neraka tidak diganti oleh kulit yang baru, maka pasti penghuni neraka tidak akan merasakan nyeri lagi. Tapi ternyata tidak, oleh Allah Yang Maha Berkuasa akan diganti dengan kulit yang baru, terus menerus, maka setiap saat mereka akan merasakan siksaan api neraka, sampai Allah berkehendak menghentikan siksaanNya.
Ini yang membuat seorang profesor di bidang anatomi di universitas Chiang May Thailand percaya bahwa Al Qur’an ini benar dan yakin bahwa Al Qur ‘an bukan buatan manusia, karena 1400 tahun yang lalu ilmu kedokteran pasti belum membahas teori tentang ini. Tapi dari mana sumber pengetahuan Al Qur’an ini didapat? Ketika dikatakan bahwa sumbernya dari Allah Yang Kuasa, sang profesor semakin penasaran untuk mempelajarinya.
Maka mudah bagi Allah untuk membukakan hati manusia lalu memberinya hidayah tentang kebenaran Islam ini. Seperti dalam surat Fushilat ayat 53:

سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di setiap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu, bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?”
*sumber dari bersamadakwah.net

7 Amalan bertukar menjadi cahaya didalam kubur nanti.

Sebelum Ajal Datang & Hilangnya Nyawa, Segeralah isi Baterai Lampu Kubur Kita

Sebelum ajal datang menjemput dan selepas nyawa dicabut serta ditempatkan di kubur, iman dan perbuatan baik kita menghasilkan cahaya yang secara automatik menerangi kegelapan kubur yang akan memberikan keselesaan di alam kubur sampai Hari Kiamat.

Disejumlah tempat di mana ada gangguan kuasa, kita lihat begitu banyak iklan beredar untuk menawarkan lampu kecemasan berupa generator, dapur gas dan apa pun yang menawarkan penyelesaian segera untuk mengatasi gangguan kuasa yang dapat dipastikan akan merugikan si pengguna elektrik, terutama dalam hal materi.

Di mana pun luka kuasa begitu dirasakan sangat mengganggu segala aktiviti. Elektrik, kini sudah menjadi keperluan pokok manusia. Bukan hanya individu, tetapi juga segala sektor kehidupan, termasuk perniagaan dan industri yang tentunya menghasilkan lembaran rupiah. Manusia begitu bergantung pada kuasa. Oleh itu, mereka berani membayar mahal untuk suatu alat yang kiranya boleh mengatasi masalah ini.

Pelbagai aduan dilontarkan, dan dimuat di pelbagai media guna menunjukkan betapa sabar dan tolerannya mereka menghadapi gangguan kuasa yang sedang berlangsung. Meski mereka mengeluh akibat terlalu banyak kesulitan yang dialami, kehilangan jam kerja dan kerugian dalam perniagaan, namun semua orang mau tidak mau akhirnya menerima, bahkan beberapa jam bekerja tanpa elektrik.

Sebagai penyelesaian, ketika berlaku gangguan kuasa, secara otomastis lampu kecemasan akan mengambil alih tanggungjawab untuk memberikan cahaya. Dan, generator lah yang akan mengambilalih untuk memberikan kuasa.

Lampu kecemasan yang kita beli harus dipasang dulu ke pusat kuasa untuk mengisi bateri, sehingga ketika kita mengalami kegagalan atau gangguan kuasa, secara automatik mereka aktif dan memberikan cahaya. Bagi keadaan kecemasan ini, lampu kecemasan sangat bermanfaat untuk penerangan dalam waktu cukup lama.

Sementara itu, kita tidak melihat apa pun yang terjadi apabila bateri sedang diisi. Yang kita tahu bahawa sesuatu yang sangat penting sedang kita beri pengambilan tenaga elektrik yang kelak akan memberikan manfaat ketika ada kegelapan.

Kita mempunyai jaminan bahawa saat pemadaman terjadi, ada kekuatan lampu kecemasan yang akan segera aktif. Namun jika tidak dipasang dengan baik, sampai bila-bila pun sebuah penerangan apapun tidak akan kita dapatkan. Kita akan tetap dalam kegelapan apabila ada gangguan elektrik.

Pentingnya Cahaya di Alam Kubur Bagi Manusia

Begitu pun dengan gangguan yang terjadi pada kehidupan manusia kelak di alam kubur yang sudah pasti akan dialami setiap makhluk yang bernyawa.

Ketika "lampu hidup" kita dimatikan, ketika kita mendapat jatah dari Sang Pencipta berupa kematian, sebanyak doktor pakar dihadirkan pun tidak akan dapat memberikan sedikit pun rawatan yang menyembuhkan, atau penerangan untuk sekadar menemani mereka ketika di alam kubur yang begitu gelap tertutup tanah, kembali pada pangkuan Sang pemberi Kehidupan, yakni Allah SWT.

Kematian & Bumi Sebagai Tempat Kembali

Lantas, sudahkah kita bertanya pada diri sendiri, "Apa yang sudah kita persiapkan untuk penerangan alam kubur, ketika terjadi pemadaman listrik (nyawa dicabut)? Apa yang akan terjadi apabila hidup kita dimatikan secara kekal dan kita harus memasuki kegelapan kubur?

Di sini, dalam kehidupan dunia ini, kita mempunyai lampu kecemasan dan generator. Tetapi hal yang sama tidak akan menjadi bantuan kepada yang lain dalam kubur. Tidak ada yang akan mengambil lampu kecemasan untuk menerangi kuburnya.

Jadi, ketika kita tidak boleh bertolak ansur dengan beberapa jam kegelapan, bagaimana kita akan dapat bertolak ansur dengan kegelapan kubur?

Ketika kita tidak boleh menerima kerugian materi akibat gangguan elektrik (yang boleh jadi hanya sementara), bagaimana kita boleh menerima kerugian spiritual terus-menerus akibat gangguan cahaya iman dalam hati kita, kerana mengumbar dosa; yang akibatnya sangat merugikan dan merosakkan kehidupan dunia kita dan lebih dari itu, kehidupan kita selepas kematian?

Pelajaran yang kita ambil dari lampu kecemasan dan generator ini sebenarnya sedang dituntut untuk suatu tujuan, yakni memberikan penerangan penting terutama saat amat sangat diperlukan ketika berada dalam keadaan gelap. Untuk mendapatkan alat ini, kita perlu kos yang tidak murah, dan juga perlu kesabaran yang tidak sebentar untuk menghasilkan dan menyimpan tenaga elektrik di dalamnya.

Demikian juga, dengan manusia kelak di alam kubur. Kita perlu 'kos' untuk memberikan cahaya alam kubur. Malangnya, cahaya ini tidak boleh kita beli dengan setumpuk wang atau ditukar dengan tingginya jabatan. Tapi, hanya boleh "ditukar" secara rohani, yakni dengan amal sholeh selama kita masih diberi kesempatan berbuat amal, dan selama nyawa kita belum dicabut. Ganjaran ini akan jelas kelihatan apabila cahaya hidup kita dimatikan, sekali dan untuk selamanya.

Hati kita mengandung "iman" sebagai penjana atau bateri yang perlu dihubungkan ke "colokan" ilmu dan dikenakan (bayaran), sementara 'lampu kecemasan' dibebankan dengan pelbagai jenis amal soleh, seperti solat, zakat, puasa, zikir, tilawah, akhlak yang baik , dan sebagainya.

Selepas nyawa dicabut dan diletakkan di kubur, iman dan perbuatan baik kita menghasilkan cahaya yang secara automatik menerangi kegelapan kubur yang akan memberikan keselesaan di alam kubursampai Hari Kiamat.

Jika kita mempunyai "iman" sebagai bateri yang benar (tidak rosak), boleh digunakan sebagai lampu kecemasan 'dengan perbuatan mulia. Namun jika kita menghabiskan hidup dalam kegelapan dosa, kubur akan menjadi tempat berkumpulnya aib, dan kita pun mau tidak mau pasti akan menerima akibatnya berupa ruangan kubur yang gelap.

Sebelum elektrik mengalir ke rumah-rumah atau tempat-tempat para penghuninya, tentunya memerlukan penjanaan elektrik. Kemudian disalurkan melalui talian penghantaran ke sub-stesen dan tiang elektrik. Selepas itu, melalui 'jalur pengedaran', elektrik baru boleh memasuki rumah kita.

Begitu pun dengan "jalur kuasa" seseorang guna mencapai penerangan alam kubur. Allah mengutus Rasul-Nya sebagai pembimbing, dilanjutkan dengan para Sahabat, Tabiin, Tabiut-Tabiin dan para ulama, yang kemudian melakukan kerja 'mengagihkan' cinta dan ilmu Allah Taala ke dalam hati orang-orang supaya mereka tetap dalam koridor "kuasa" yang benar, sehingga tidak konslet.

Melalui bimbingan mereka, nescaya kita akan dengan mudah mengisi diri kita sendiri secara rohani. Mereka membimbing kita untuk berbuat baik, beramal soleh, dan sesuai tuntunan Ilahi Robbi dan Rasul-Nya.

Menariknya, untuk mendapatkan bimbingan rohani, untuk mendapatkan "lampu kecemasan" ini, tak jarang para ulama itu tidak membebankannya dengan unsur materi. Dengan kata lain kita boleh memperolehnya secara percuma.

Dengan usaha ini di mana kita memelihara iman dan mengisi diri kita dengan perbuatan baik, kematian menjadi "hadiah" bagi orang percaya seperti yang dijelaskan dalam hadis. Sudah selayaknya, umat Islam tidak mempunyai rasa takut pada kematian. Sebab, ketika mati, kita membawa generator dari iman dan cinta untuk menjumpai Allah SWT dan Rasul-Nya, serta "lampu kecemasan" dari amal soleh.

Maka dengan tabungan "penjana elektrik" tersebut, bermakna kita mempunyai harapan dan jaminan, yang kelak insya Allah akan menyala terang apabila kita memasuki alam kubur yang gelap gelita itu. Wallahu A'lam Bish-Showab ...

*sumber peribadirasulullah.wordpress.com




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
p/s: Jika ada diantara blogger yang ingin bertukar pautan link dengan detikislam.blogspot.com, boleh lah pm di facebook admin.

Juga kepada blogger-blogger yang telah membuat pautan link detikislam di blog masing-masing tetapi admin masih tidak meletakkan pautan link blog saudara saudari, minta pm juga di facebook admin. Sekian, Terima Kasih

Blog's stats Jumaat 30.12.2011 bersamaan 4 Safar 1433

Back To Top
Profile Picture
©1433 Hakcipta Tak Terpelihara
Anda digalakkan untuk mengambil apa-apa bahan di dalam laman ini untuk tujuan penyebaran, tanpa perlu memberitahu kepada pihak kami. Anda digalakkan untuk memaparkan sumber asal bahan tersebut.
E-mel :detikislamblog@gmail.comatau Facebook :www.facebook.com/blogdetikislam